entahlah ku dapat dari mana, yang jelas hanya untuk renungan saja
===============================================
Yang Muda Dan Yang Rapuh
Pasangan muda dewasa ini menghadapi corak kehidupan dengan muatan stress yang jauh lebih sarat dan berat. Hal itu dibandingkan dengan kondisi generasi-generasi sebelumnya. Untuk kawin saja kini diperlukan kesibukan yang lebih banyak. Persiapan yang lebih lama. Minimal satu tahun untuk pesan gedung. Dan juga biaya yang jauh lebih besar. Diperlukan biaya puluhan juta untuk sewa gedung, paket pakaian pengantin, dan katering. Belum lagi untuk kontrakan rumah dan pengisian perabotnya. Semuanya harus serba baru. Dan celakanya kebanyakannya juga serba tunai. Kalau sudah mulai memakai kartu kredit, maka “Welcome to the debth labyrinth. For the rest of your life”. Hidup dengan pola lebih besar pasak dari tiang. Kalau kartu kredit tidak terbayar maka wajah perayu manis bankir berubah menjadi wajah monster yang sangat menakutkan dalam wujud “debt collector” yang menunggu sangar di depan pagar rumah siang dan malam.
Tahun-tahun pertama juga sibuk mempersiapkan kemungkinan kehadiran bayi dengan berbagai ragam kebutuhannya. Kalau tempat tinggal agak jauh dari tempat kerja sudah pasti dibutuhkan pula alat transportasi. Minimal sebuah sepeda motor. Bagi pasangan yang berpenghasilan agak lumayan mungkin perlu biaya khusus untuk uang muka dan cicilan mobil kecil atau minibus. Tentu terdapat juga pasangan yang cukup beruntung tetapi yang jumlahnya minoritas – yang memperoleh kendaraan dinas dari tempatnya bekerja.
Pergi dan pulang kerja juga menguras energi. Ada yang harus berada di jalan selama lebih dari satu jam perjalanan ke tempat kerja. Belum lagi kalau suami isteri bekerja. Maka suami harus mengantar isterinya terlebih dahulu sebelum menuju tempat kerjanya sendiri. Akibatnya, mereka harus bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan sarapan dan supaya tidak terlambat sampai di tempat kerja. Banyak perusahaan yang tidak peduli kalau karyawannya pulang larut malam – termasuk karyawan wanita - namun jam masuk kerja tidak pernah boleh terlambat barang sekejap. Bahkan ada yang nekat memajukan mesin absensi lima menit sebelum jam RRI sehingga kartu absen jadi merah semua. Ada yang memakai sistem pemotongan upah. Bahkan ada yang bila satu hari mangkir karena alasan apapun, upah karyawan langsung dipotong sebesar lima puluh ribu rupiah.
Sampai ke rumah senja atau malam hari keduanya sudah letih secara fisik maupun mental. Belum tentu mampu membayar pembantu sehingga urusan mencuci pakaian dan membersihkan rumah juga sudah menanti pula. Entah mau dikerjakan malam hari atau pada pagi-pagi buta. Atau secara ekstrim rumah dibersihkan seminggu sekali termasuk cuci pakaian. Belanja keperluan dapur dilakukan seminggu sekali. Semuanya kemudian dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Sebagian besar merupakan junk food dan makanan kering atau yang cepat siap saji. Makanan bergizi? Masuk urutan tiga belas !
Orang yang capek fisik dan mental cenderung untuk cepat marah. Ambang stressnya terpasang rendah. Sedikit jumlah stressor saja telah cukup untuk meledakkan api pertengkaran hebat. Dalam suatu pertengkaran dihabiskan banyak energi. Membakar api nafsu amarah itu dibutuhkan energi yang besar lho. Ada yang menang dan kalah dalam pertengkaran. Atau dalam adu argumentasi. Yang menang menyerap energi yang kalah sehingga yang kalah bertambah loyo. Ibarat korban vampir yang baru dihisap darahnya. Selain vampir darah klasik maka dalam dunia modern terdapat banyak vampir energi yang menyedot energi pasangannya untuk kebutuhan energinya sendiri (baca The Celestine Prophecy). Jarang pasangan muda yang memahami cara memulihkan energi secara cepat yaitu melalui laku meditasi. Namun, pada zaman sekarang ini pasangan yang kelelahan cenderung untuk cepat-cepat pergi tidur saja. Pel-rok. Kepala menempel bantal langsung ngorok. Bahkan tidak mustahil mereka tidak lagi bergairah untuk intimasi. Bagi mereka tidur merupakan satu-satunya cara untuk memulihkan energi tubuh dan jiwa yang terkuras. Padahal sebenarnya cara meditasi merupakan jalan keluar yang paling tepat karena singkat, efektif dan efisien. Limabelas menit meditasi badan dan jiwa segar kembali.
Pada tahun ketiga pasangan muda membutuhkan pula biaya khusus untuk perpanjangan kontrak rumah. Atau untuk mencari kontrakan baru. Setiap tahun STNK kendaraan harus dibayar saat perpanjangannya. Belum lagi diperlukan dana khusus untuk pemberian kado kepada pasangan pengantin baru. Baik dari kalangan rekan-rekan sekerja – dua kantor lho - maupun dari anggota keluarga besar. Semuanya kini dituntut secara halus – maupun kasar - dalam bentuk mentahnya pula. Sekarang ini tidak ada lagi yang memberi sumbangan seperti itu sebesar limapuluhan ribu.
Uang bukan satu-satunya faktor yang membuat runyam kehidupan pasangan muda. Ada masalah penyesuaian diri, egoisme dan juga gengsi. Situasi kehidupan modern yang serba memuja epikurisme. Juga memuja kepada yang serba instan. Maunya semuanya serba cepat. Memperpanjang SIM tidak mungkin dilakukan sendiri dengan berlama-lama di Komdak – bisa dipecat nantinya. Maka diperlukan jasa perantara pihak ketiga. Dan ini semuanya membutuhkan tambahan biaya yang cukup besar.
Kebutuhan psikis juga dipertanyakan. Sekedar hiburan di Mal juga membutuhkan biaya ekstra. Belum untuk nonton film atau makan di cafe. Perlu perlengkapan sound system di rumah. Apalagi yang mau mengikuti gaya hidup modern dengan minum-minum atau makan di cafe-cafe.
Kehidupan rohani juga kerap dalam kondisi “at stake”. Sebagian tidak acuh terhadap kebutuhan rohani mereka yang haus air kehidupan. Mereka ada yang kemudian malas beribadat ataupun berdoa. Jiwanya menjadi kering kerontang karena jarang menerima kucuran atau siraman rohani. Akibatnya banyak yang menjadi stress, paranoid bahkan ada yang cenderung mau bunuh diri segala.
Kebutuhan akan uang dalam jumlah yang besar dapat mendorong orang menjadi gelap mata. Membuat orang menghalalkan semua cara untuk memperolah uang tambahan. Di suatu cluster perumahan yang namanya satpam juga memeras para tukang tralis, tukang gorden, tukang taman atau toko yang mengirim perabotan. Termasuk mereka yang mempunyai sejumput kekuasaan untuk memberikan izin renovasi di kompleks perumahan tertentu. Ada yang kemudian tergoda untuk mencari “quick money” dengan menjadi bandar judi gelap, pencuci uang gelap, bahkan menjadi mata rantai penyalur narkoba.
Kehausan akan kasih sayang membuat orang mudah tergoda terhadap rayuan gombal atau “full attention” serigala lawan jenis yang naksir di tempat kerja. Maka terjadilah semacam cinta lokasi. Makan siang terus berduaan dan pada ujung ekstrimnya BBS. Fenomen TTM - teman tapi mesra kerap terjadi. Terutama bagi pasangan yang ‘jablai’ atau jarang dibelai di rumahnya sendiri karena sama-sama jenuh dan kecapean sepulang dari kerja setiap harinya.
Dengan demikian nilai-nilai luhur perkawinan sangat mudah menjadi terancam. Rapuh ! KDRT dapat mulai terjadi dan semakin bereskalasi dalam rumah tangga. Maka perceraian tidak resmi sebelum masa balita dan batita banyak terjadi. “Gila !”, kata seorang bapak, “untuk mengawinkan anak saya menghabiskan sekitar duapuluhlima jutaan. Bahkan untuk ceraipun saya harus menguras kocek sebegitu banyak juga”. Kawin mahal dan ceraipun mahal. Maka banyak pasangan muda memilih “bubar jalan” tanpa proses pengadilan. Bagaimana komplikasinya dalam bidang keagamaan? Ini merupakan persoalan yang semakin menggejala dan bereskalasi dalam masyarakat keluarga muda di kota, masyarakat dan di zaman modern ini. Apakah para pemuka agama concern terhadap masalah ini? Ataukah hanya sampai tahapan unjuk keprihatinan saja?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar